Ads

SITUASI KEMISKINAN DI INDONESIA


SITUASI KEMISKINAN DI INDONESIA
Kemiskinan adalah kondisi keterbatasan kemampuan untuk memenuhi kebutuhan hidup secara
layak seperti keterbatasan dalam pendapatan, keterampilan, kondisi kesehatan.Pemerintah
menggunakan garis kemiskinan berdasarkan ukuran dari BPS.Selain dengan pendekatan moneter, kemiskinan juga dapat diukur dengan aspek lain seperti akses
terhadap layanan pendidikan, kesehatan, dan informasi publik, kepemilikan barang berharga,
kesempatan berpartisipasi dalam kegiatan masyarakat, kebebasan berpendapat, dan sebagainya.
Pemerintah dan lembaga nonpemerintah (seperti lembaga swadaya masyarakat, lembaga swasta
ataupun lembaga donor) telah, sedang, dan akan berupaya melalui berbagai programnya, baik
secara langsung maupun tidak langsung, untuk menanggulangi kemiskinan. Sebagai contoh, saat
ini konsep pertumbuhan dan penganggaran yang memihak orang miskin (pro-poor growth dan
pro-poor budgeting) sedang diwacanakan. Pemerintah Pusat memiliki program-program berskala
nasional yang telah dan sedang dilaksanakan seperti Jaring Pengaman Sosial, Bantuan Operasional
Sekolah (BOS), PKH, dan BLT.Upaya penanggulangan kemiskinan di Indonesia dilakukan secara terus-menerus oleh pemerintah
dan pada 2017 telah menunjukkan kemajuan dibandingkan tahun sebelumnya. Pada 2016
penduduk miskin di Indonesia berjumlah 39.300.000 orang atau 17,75%. Pada 2017 jumlah ini
turun sebesar 1,17 titik persen menjadi 16,58% atau 37.170.000 orang.
Upaya pemerintah dalam penanggulangan kemiskinan melalui program-program di bidang
pendidikan, kesehatan, infrastruktur ataupun pangan
Berbagai upaya tersebut belum sepenuhnya berhasil karena adanya berbagai kendala
luasnya wilayah Indonesia, banyaknya penduduk miskin di Indonesia, dan belum adanya sistem
perlindungan sosial yang memadai. Dalam menentukan rumah tangga miskin, BPS menggunakan 14 variabel untuk menentukan
apakah suatu rumah tangga layak dikategorikan miskin. Keempat belas variabel tersebut adalah:
1. luas bangunan;
2. jenis lantai;
3. jenis dinding;
4. fasilitas buang air besar;
5. sumber air minum;
6. sumber penerangan;
7. jenis bahan bakar untuk memasak;
8. frekuensi membeli daging, ayam, dan susu dalam seminggu;
9. frekuensi makan dalam sehari;
10. jumlah stel pakaian baru yang dibeli dalam setahun;
11. akses ke puskesmas/poliklinik;
12. akses ke lapangan pekerjaan;
13. pendidikan terakhir kepala rumah tangga; dan
14. kepemilikan beberapa aset.
Dalam PSE05, sebuah rumah tangga dikatakan miskin apabila:
1. luas lantai bangunan tempat tinggalnya kurang dari 8 m2 per orang;
2. lantai bangunan tempat tinggalnya terbuat dari tanah/bambu/kayu murahan;
3. dinding bangunan tempat tinggalnya terbuat dari bambu/rumbia/kayu berkualitas rendah
atau tembok tanpa diplester;
4. tidak memiliki fasilitas buang air besar/bersama-sama rumah tangga lain menggunakan
satu jamban;
5. sumber penerangan rumah tangga tidak menggunakan listrik;
6. air minum berasal dari sumur/mata air yang tidak terlindung/sungai/air hujan;
7. bahan bakar untuk memasak sehari-hari adalah kayu bakar/arang/minyak tanah;
8. hanya mengonsumsi daging/susu/ayam satu kali dalam seminggu;
9. hanya membeli satu stel pakaian baru dalam setahun;
10. hanya mampu makan satu/dua kali dalam sehari;
11. tidak sanggup membayar biaya pengobatan di puskesmas/poliklinik;
12. sumber penghasilan kepala rumah tangga adalah: petani dengan luas lahan 0,5 ha, buruh
tani, nelayan, buruh bangunan, buruh perkebunan, atau pekerjaan lainnya dengan
pendapatan di bawah Rp600.000 per bulan;
13. pendidikan terakhir kepala rumah tangga: tidak sekolah/tidak tamat sekolah dasar
(SD)/hanya SD; dan 14. tidak memiliki tabungan/barang yang mudah dijual dengan nilai minimal Rp500.000
seperti sepeda motor (kredit/nonkredit), emas, hewan ternak, kapal motor ataupun
barang modal lainnya
Studi SMERU, Keluar dari kemiskinan atau Moving Out of Poverty (MOP) dilakukan di tiga provinsi,
yaitu Provinsi Jawa Timur, Provinsi Maluku Utara, dan Provinsi Nusa Tenggara Timur. Studi ini
bertujuan mencari jawaban atas pertanyaan mengapa dan bagaimana keluarga kaya tetap kaya
(always rich), keluarga kaya bisa jatuh miskin (faller), keluarga miskin bisa keluar dari kemiskinan
(mover), dan keluarga miskin tetap miskin (chronic poor)
Hasil studi Keluar dari Kemiskinan menunjukkan adanya dinamika kemiskinan yang dipengaruhi
faktor-faktor struktur sosial, agensi, dan gender.
Pengaruh faktor-faktor struktural terhadap dinamika kemiskinan ditunjukkan dengan adanya
kelompok elit─seperti kelompok bangsawan─yang memperoleh hak-hak istimewa secara turun￾temurun untuk menduduki kepemimpinan lokal. Lemahnya posisi tawar warga biasa
berkecenderungan memengaruhi upaya untuk meningkatkan kesejahteraan. Pengaruh
kesenjangan ekonomi terhadap upaya untuk meningkatkan kesejahteraan tercermin, antara lain
dari kesempatan untuk memanfaatkan peluang ekonomi, misalnya akses permodalan. Selain itu,
partisipasi politik dilakukan secara berjenjang dan selektif, dan aktornya pada umumnya adalah
laki-laki dewasa yang termasuk dalam keluarga bangsawan.
Pengaruh faktor agensi─kapasitas bertindak yang dimiliki individu dan kelompok masyarakat
untuk mencapai tujuan/kepentingan─terhadap dinamika kemiskinan ditunjukkan dengan adanya
kepemilikan aset materi, kemampuan individu (seperti kondisi kesehatan dan tingkat pendidikan),
dan kemampuan sosial-politik-psikologis.
Pengaruh faktor gender terhadap dinamika kemiskinan ditunjukkan antara lain oleh adanya sistem
kekuasaan dalam keluarga yang umumnya dimiliki oleh laki-laki, dan umumnya perempuan
memiliki peran yang lebih kecil dalam proses pengambilan keputusan di tingkat komunitas. Jumlah
keluarga yang termasuk dalam kelompok miskin yang dikepalai perempuan lebih besar daripada
jumlah keluarga dari kelompok yang sama yang dikepalai laki-laki, walaupun keluarga yang
dikepalai baik oleh laki-laki maupun perempuan memiliki akses yang relatif sama terhadap kredit
dan informasi.


Tabel 4. Variabel dan Bobot Penentu Kesejahteraan Masyarakat

Desa A
Variabel Bobot Variabel Bobot
Memiliki kipas angin 0,27 Memiliki TV berwarna 0,28
Memiliki TV berwarna 0,26 Memiliki kipas angin 0,26
Memiliki DVD/VCD player 0,26
 Memiliki DVD/VCD player 0,25
Memiliki tape recorder 0,25 Kepala keluarga perempuan -0,23
Memiliki kendaraan bermotor roda dua 0,25 Memiliki kendaraan beroda dua 0,23
Memiliki kulkas 0,23 Memiliki tape recorder 0,23
Memiliki telepon genggam 0,22
Kepala keluarga berstatus menikah 0,22
Menggunakan WC pribadi 0,21
 Memiliki sepeda atau perahu 0,22
Memiliki alat elektronik lain 0,19
Menggunakan WC pribadi 0,21
Memiliki radio 0,19 Tinggal di rumah berlantai tanah -0,21
Tinggal di rumah berlantai tanah -0,19
Desa B
Variabel Bobot Variabel Bobot
Memiliki kulkas 0,26 Memiliki kulkas 0,26
Memiliki telepon 0,25 Memiliki TV berwarna 0,26
Memiliki tabungan 0,24 Memiliki telepon genggam 0,26
Memiliki kipas angin 0,24 Memiliki DVD/VCD player 0,23
Memiliki antena parabola 0,24 Memiliki kipas angin 0,22
Memiliki DVD/VCD player 0,24 Memiliki tabungan 0,22
Memiliki TV berwarna 0,24 Memiliki tape recorder 0,20
Memiliki kendaraan bermotor roda dua 0,21 Menggunakan WC pribadi 0,20
Pendidikan kepala keluarga: SD -0,20 Mengonsumsi daging sedikitnya sekali seminggu 0,18
Memiliki tape recorder 0,19 Memiliki kendaraan bermotor roda dua 0,18

No comments